Thursday, November 10, 2005

 


three’ adalah produksi bersama beberapa sutradara, dari Thailand, korea, dan hongkong. Dari plot yang ada sih semua horror. Well, produksi dari hongkong agak sedikit drama psikologis sebenarnya. Cuma atmosfir yang ditawarkan memang agak thrilling. Yeah, it was sad in the end. Jadi gw bingung apa ini horror atau something else. Suspense aja? Psikologis? Well…
konsep yang ditawarkan dengan menggabungkan tiga proyek berbeda ini menurut gw sih oke. Secara emang jarang. Dan ini ngingetin gw sama ju-on. Yang ceritanya Cuma daftar korban aja. Kecuali ju-on 3. dari semua film ini memang kelihatan sinematografi yang sangat berciri dari ketiga Negara dan sutradara yang membuatnya. Mungkin agak justifikasi tapi dari sini gw melihat sejauh mana perkembangan sinematografi dari masing-masing produksi.
Cerita pertama berasal dari korea. Beberapa tahun terakhir gw mengindentifikasi korea sebagai Negara yang produksi filmnya oke, karena menawarkan ide-ide yang ngga biasa, ngga mainstream, mereka selalu melawan pakem pikiran orang, endingnya mengejutkan, dan dramanya oke lah. Secara tv-tv swasta Indonesia udah diserang ama drama2 korea maka bisa dipastikan orang Indonesia adalah base fan yang kuat buat produksi2 dari korea. Oke, ke ceritanya..gw ngga mau mengumbar ceritanya di sini, supaya lo nonton sendiri, kalau udah pada nonton ya gw refresh your memory aja. Cerita yang berasal dari korea ini berfokus pada sebuah keluarga kecil. Satu bapak, ibu, dan anak kecilnya. Si ibu suatu hari menghilang dari rumah. Si bapak dan iparnya mencari ibu ini kemana-mana. Lalu di lain scene, ibu ini, setelah penyambungan nalar yang cukup susah untuk menebak siapa sebenarnya perempuan ini. Karena dia digambarkan sendirian mulu, dan kayak orang yang mindnya paralyzed gitu. Setelah beberapa lama gw baru bisa meyakinkan diri bahwa si perempuan ini adalah ibu yang dicari-cari itu, karena si suami juga bilang kalau istrinya itu sering lupa, amnesia sesaat (emang ada?). lalu, si istri mulai berjuang untuk mencari jalan pulangnya sendiri. Karena sepanjang film dia digambarkan memang berusaha mengingat sesuatu. Namanya, asal usulnya, bahkan tempat dia tinggal.
So, si perempuan, ibu, dan istri ini akhirnya bisa mengingat di mana dia tinggal. Lalu pergilah dia ke apartemen itu, yang terletak di barisan apartemen baru dengan spanduk (gw lupa pastinya) tapi bunyinya kurang lebih ‘hunian yang akan mengabulkan impian anda.’ Pelan tapi pasti, bagian per bagian, si ibu ini ingat siapa dia. Dan kenyataan sebenarnya tentang dia saat itu…hiiiii.
Kita ke produksi dari Thailand. Ceritanya folk sekali. Seperti kebanyakan horror Thailand lainnya. Mengangkat tentang kelompok pemain boneka dan konflik di dalamnya, antara pemain, bahkan pemilik dan pewaris adat kelompok pemain boneka itu. Well, dari penceritaannya dan penyutradaraannya si sutradara berhasil membawa suasana folk itu ke layar. Dengan kenyataan bahwa boneka-boneka yang dimainkan itu terkutuk dan nasib2 orang di kelompok pemain boneka itu somehow dimainkan oleh boneka-boneka itu. Well, maksud gw adalah boneka-boneka terkutuk itu bisa memainkan jalan hidup kelompok pemain boneka sendiri. Mereka bisa survive kalau mengikuti jalan yang ditawarkan oleh boneka-boneka itu. Jujur aja, gw agak fed up dengan tema yang sama dari horor2 thailand yang itu-itu aja, kecuali shutter (yang bagus itu). Lebih lagi sinematografinya yang 90s sekali. Jadinya tambah ngga suka. Sorry. Karakter-karakternya juga cenderung basi, karena cerita nya standard dan ngga di dig lagi. Beda sama yang dari korea di atas. Karakternya ngga banyak, yang intens Cuma 2 dan betul-betul focus ke mereka berdua. Intinya yang dari Thailand ini basi.
Kita ke produksi dari hongkong. Yang muncul sih watak punya, ada leon lai sama bapak2 gendut yang jadi antagonis di infernal affair (well, leon lai juga main sih di infernal affair 3). Seperti yang gw bilang di atas, Cuma yang dari hongkong ini yang ngga focus ke pakem horornya. Karena kemudian gw menemukan bahwa ini adalah drama suspense psikologis. Horornya Cuma setitik. Dan setitik yang sebenarnya juga gede banget itu ada dari kesintingan karakter leon lai di sini yang menjaga tubuh istrinya yang udah well…sebenarnya juga ngga jelas apa udah mati atau belum. Pria yang diperankan leon lai di sini begitu yakin bahwa istrinya akan bangkit dan segar kembali setelah ia merawatnya dengan ramu-ramuan selama 3 tahun. Saat 3 tahun itu terpenuhi maka istrinya akan bangkit.
Si istri mengidap kanker jack. Kronis. Dan pengobatan barat ngga bisa membantu. Makanya pria ini, si leon lai, bertekad untuk menyembuhkannya dengan memandikan istrinya dengan ramuan-ramuan itu. Oya, leon lai di sini diceritakan adalah lulusan sekolah tabib (bareng istrinya yang udah jadi sayur ngga jelas itu).
Nah si bapak gemuk itu, diceritakan baru pindah ke apartemen itu. Sebenarnya lebih mirip rumah susun. Kumuh. Sangat hongkong. Yang bikin serem adalah kalau dilihat2 yang tinggal di situ ngga ada. Hiii….bapak gemuk ini adalah polisi. Dia pindah ke situ sama anak semata wayangnya, cowok, yang sejak hari pertama mereka pindah ke sana sudah berurusan sama anak kecil cewek keriwil berbaju merah yang terlihat seperti menantang dia. Apalagi anak cewek ini suka muncul tiba-tiba, tipikal horror lah.
Kejutan ada di bagian akhir, seperti biasa, saat akhirnya 3 tahun itu sampai juga, dan leon lai terpaksa menyandera bapak gemuk itu karena menerobos masuk rumahnya tanpa izin dan melihat istrinya yang menjadi sayur itu. Kejutan ini yang membuat gw mengatakan bahwa ini drama. Ya ya, lihat aja deh sendiri…sedih ahhhhh.
Dari semua film di atas. Gw lebih cenderung ke produksi dari korea. Ceritanya oke. Plotnya yang jumping sana sini. Puzzle nya juga bagus, jadi misterinya acak banget. Sinematografinya juga bagus, sangat korea. Sangat simple. Kalau diperhatikan memang film-film korea cenderung menganut pakem sinematografi yang sama. Menurut gw lo. Properties yang ga banyak. Tone warna yang juga simple. Dan apa lagi ya…tema cerita itu. Ahhh, bagus deh. Apalagi film korea udah masuk seleksi oscar. Udah liat tae guk gi? Won bin yang maen, bagus tuh. Kapan-kapan deh gw cerita soal film itu.
Sedikit tambahan. Dari ketiga film di atas, gw juga bisa melihat development urban-ity dari sebuah stylistic film. Hehehe. Term gw sendiri tuh. Artinya, tiap film jadi punya karakter sendiri. Ada development sendiri-sendiri. Tiap film menunjukan pakem apa yang dipakai di tiap Negara.
Korea cenderung mengangkat horror yang urban, horror perkotaan, horror yang dijadikan dari konflik social sehari-hari. Sebenarnya biasa. Tapi jadi ngga biasa. Nyeremin ahhh. Gaya sinematografinya juga cenderung punya pakem yang sama. Kalau lo perhatiin ada beberapa warna yang selalu muncul dalam film-film korea. Kayaknya sutradara2 di sana pada duka dengan tone warna itu. Yeah yeah..
Nah kalau Thailand (dengan shutter sebagai pengecualian), mereka cenderung ke folk yang mendayu-dayu, kisah cintanya kadang buat gw fed up. Apalagi kalau akhirnya jadi urusan siluman-siluman gitu., jadi keinget sama ‘impian pengantin’ yang dulu sampai muncul berapa seri, kayak tersanjung sekarang, dan gua hampir ngga percaya bahwa dulu rieke diah pitaloka oneng muncul beberapa musim. Yikessss…..horor Thailand cenderung folk dan masih berbau mistis.
Hongkong sendiri hampir sama dengan korea. Mereka kayak udah ngga jelas berdiri di pakem apa. Menurut gw sih kalau mau bikin film horror ada beberapa pakem yang emang kudu dipegang. Tapi di produksi hongkong yang juga muncul di ‘three’ ini gw ngeliat angle-angle film gangster. Lucu kan jadinya. Mungkin dari sini juga lah gw bisa merasakan bagaimana tinggal di hongkong tanpa harus benar-benar kesana. Cukup liat filmnya. Jujur aja, gw juga udah punya stereotype sendiri kalau melihat film-film hongkong. Horror dengan sinematografi ala gangster, dan sebenarnya filmnya sendiri bukan horror. Gimana tuh…
Three cukup dapat 2 setengah bintang dari gue. Dari gue loh.

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?