Sunday, November 05, 2006

 
sudah lama gw nggak liat DVD, dan salah satu film pertama yg gw sempat lihat adalah film ini. i am always eager to see movies exploring and covering unique gender issues. i thought that this one would completely discussing that element. but i was wrong. it stands more than that.
Cillian Murphy berperan sebagai seorang anak laki-laki yang ditinggal Ibunya di depan rumah seorang wanita pekerja yang pemarah. entah karena apa, laki-laki ini malah menyukai semua hal yang berbau perempuan dan akhirnya dia memutuskan untuk menjadi banci betulan. anyway, the story takes place di Ireland. jadi Inggrisnya rada2 nggak jelas.
dari seorang pastor di dekat rumahnya, laki2 ini mengetahui kalau Ibunya yang meninggalkannya itu sebenarnya masih hidup di London. Pastor ini menggambarkan kalau Ibunya laki2 itu mirip seorang artis besar. daqn dengan gambaran itu laki-laki muda dengan identitas nggak jelas ini berusaha mencari Ibunya di London, setelah sekian lama berusaha bertahan dari Ibu dan kakak angkatnya yang sangat demanding. dia harus meninggalkan teman2nya di kampung; seorang perempuan seniman keturunan negro- seorang laki2 gendut dengan mental terbelakang- dan seorang pemuda kulit putih yang terlibat cinta dengan perempuan seniman itu yang mendedikasikan hidupnya untuk pemberontakan AKA revolusi.
di London, tokoh utama kita menemukan banyak persimpangan, hampir mati, dan segudang life clashes lainnya. banyak kejutan yang terjadi, terutama mengenai siapa sebenarnya ayah laki-laki muda yang sarapan di pluto ini.
film yang manis, pahit, asam, tidak asin, dan salah satu film yang pengen banget gw buat.

Thursday, November 10, 2005

 


three’ adalah produksi bersama beberapa sutradara, dari Thailand, korea, dan hongkong. Dari plot yang ada sih semua horror. Well, produksi dari hongkong agak sedikit drama psikologis sebenarnya. Cuma atmosfir yang ditawarkan memang agak thrilling. Yeah, it was sad in the end. Jadi gw bingung apa ini horror atau something else. Suspense aja? Psikologis? Well…
konsep yang ditawarkan dengan menggabungkan tiga proyek berbeda ini menurut gw sih oke. Secara emang jarang. Dan ini ngingetin gw sama ju-on. Yang ceritanya Cuma daftar korban aja. Kecuali ju-on 3. dari semua film ini memang kelihatan sinematografi yang sangat berciri dari ketiga Negara dan sutradara yang membuatnya. Mungkin agak justifikasi tapi dari sini gw melihat sejauh mana perkembangan sinematografi dari masing-masing produksi.
Cerita pertama berasal dari korea. Beberapa tahun terakhir gw mengindentifikasi korea sebagai Negara yang produksi filmnya oke, karena menawarkan ide-ide yang ngga biasa, ngga mainstream, mereka selalu melawan pakem pikiran orang, endingnya mengejutkan, dan dramanya oke lah. Secara tv-tv swasta Indonesia udah diserang ama drama2 korea maka bisa dipastikan orang Indonesia adalah base fan yang kuat buat produksi2 dari korea. Oke, ke ceritanya..gw ngga mau mengumbar ceritanya di sini, supaya lo nonton sendiri, kalau udah pada nonton ya gw refresh your memory aja. Cerita yang berasal dari korea ini berfokus pada sebuah keluarga kecil. Satu bapak, ibu, dan anak kecilnya. Si ibu suatu hari menghilang dari rumah. Si bapak dan iparnya mencari ibu ini kemana-mana. Lalu di lain scene, ibu ini, setelah penyambungan nalar yang cukup susah untuk menebak siapa sebenarnya perempuan ini. Karena dia digambarkan sendirian mulu, dan kayak orang yang mindnya paralyzed gitu. Setelah beberapa lama gw baru bisa meyakinkan diri bahwa si perempuan ini adalah ibu yang dicari-cari itu, karena si suami juga bilang kalau istrinya itu sering lupa, amnesia sesaat (emang ada?). lalu, si istri mulai berjuang untuk mencari jalan pulangnya sendiri. Karena sepanjang film dia digambarkan memang berusaha mengingat sesuatu. Namanya, asal usulnya, bahkan tempat dia tinggal.
So, si perempuan, ibu, dan istri ini akhirnya bisa mengingat di mana dia tinggal. Lalu pergilah dia ke apartemen itu, yang terletak di barisan apartemen baru dengan spanduk (gw lupa pastinya) tapi bunyinya kurang lebih ‘hunian yang akan mengabulkan impian anda.’ Pelan tapi pasti, bagian per bagian, si ibu ini ingat siapa dia. Dan kenyataan sebenarnya tentang dia saat itu…hiiiii.
Kita ke produksi dari Thailand. Ceritanya folk sekali. Seperti kebanyakan horror Thailand lainnya. Mengangkat tentang kelompok pemain boneka dan konflik di dalamnya, antara pemain, bahkan pemilik dan pewaris adat kelompok pemain boneka itu. Well, dari penceritaannya dan penyutradaraannya si sutradara berhasil membawa suasana folk itu ke layar. Dengan kenyataan bahwa boneka-boneka yang dimainkan itu terkutuk dan nasib2 orang di kelompok pemain boneka itu somehow dimainkan oleh boneka-boneka itu. Well, maksud gw adalah boneka-boneka terkutuk itu bisa memainkan jalan hidup kelompok pemain boneka sendiri. Mereka bisa survive kalau mengikuti jalan yang ditawarkan oleh boneka-boneka itu. Jujur aja, gw agak fed up dengan tema yang sama dari horor2 thailand yang itu-itu aja, kecuali shutter (yang bagus itu). Lebih lagi sinematografinya yang 90s sekali. Jadinya tambah ngga suka. Sorry. Karakter-karakternya juga cenderung basi, karena cerita nya standard dan ngga di dig lagi. Beda sama yang dari korea di atas. Karakternya ngga banyak, yang intens Cuma 2 dan betul-betul focus ke mereka berdua. Intinya yang dari Thailand ini basi.
Kita ke produksi dari hongkong. Yang muncul sih watak punya, ada leon lai sama bapak2 gendut yang jadi antagonis di infernal affair (well, leon lai juga main sih di infernal affair 3). Seperti yang gw bilang di atas, Cuma yang dari hongkong ini yang ngga focus ke pakem horornya. Karena kemudian gw menemukan bahwa ini adalah drama suspense psikologis. Horornya Cuma setitik. Dan setitik yang sebenarnya juga gede banget itu ada dari kesintingan karakter leon lai di sini yang menjaga tubuh istrinya yang udah well…sebenarnya juga ngga jelas apa udah mati atau belum. Pria yang diperankan leon lai di sini begitu yakin bahwa istrinya akan bangkit dan segar kembali setelah ia merawatnya dengan ramu-ramuan selama 3 tahun. Saat 3 tahun itu terpenuhi maka istrinya akan bangkit.
Si istri mengidap kanker jack. Kronis. Dan pengobatan barat ngga bisa membantu. Makanya pria ini, si leon lai, bertekad untuk menyembuhkannya dengan memandikan istrinya dengan ramuan-ramuan itu. Oya, leon lai di sini diceritakan adalah lulusan sekolah tabib (bareng istrinya yang udah jadi sayur ngga jelas itu).
Nah si bapak gemuk itu, diceritakan baru pindah ke apartemen itu. Sebenarnya lebih mirip rumah susun. Kumuh. Sangat hongkong. Yang bikin serem adalah kalau dilihat2 yang tinggal di situ ngga ada. Hiii….bapak gemuk ini adalah polisi. Dia pindah ke situ sama anak semata wayangnya, cowok, yang sejak hari pertama mereka pindah ke sana sudah berurusan sama anak kecil cewek keriwil berbaju merah yang terlihat seperti menantang dia. Apalagi anak cewek ini suka muncul tiba-tiba, tipikal horror lah.
Kejutan ada di bagian akhir, seperti biasa, saat akhirnya 3 tahun itu sampai juga, dan leon lai terpaksa menyandera bapak gemuk itu karena menerobos masuk rumahnya tanpa izin dan melihat istrinya yang menjadi sayur itu. Kejutan ini yang membuat gw mengatakan bahwa ini drama. Ya ya, lihat aja deh sendiri…sedih ahhhhh.
Dari semua film di atas. Gw lebih cenderung ke produksi dari korea. Ceritanya oke. Plotnya yang jumping sana sini. Puzzle nya juga bagus, jadi misterinya acak banget. Sinematografinya juga bagus, sangat korea. Sangat simple. Kalau diperhatikan memang film-film korea cenderung menganut pakem sinematografi yang sama. Menurut gw lo. Properties yang ga banyak. Tone warna yang juga simple. Dan apa lagi ya…tema cerita itu. Ahhh, bagus deh. Apalagi film korea udah masuk seleksi oscar. Udah liat tae guk gi? Won bin yang maen, bagus tuh. Kapan-kapan deh gw cerita soal film itu.
Sedikit tambahan. Dari ketiga film di atas, gw juga bisa melihat development urban-ity dari sebuah stylistic film. Hehehe. Term gw sendiri tuh. Artinya, tiap film jadi punya karakter sendiri. Ada development sendiri-sendiri. Tiap film menunjukan pakem apa yang dipakai di tiap Negara.
Korea cenderung mengangkat horror yang urban, horror perkotaan, horror yang dijadikan dari konflik social sehari-hari. Sebenarnya biasa. Tapi jadi ngga biasa. Nyeremin ahhh. Gaya sinematografinya juga cenderung punya pakem yang sama. Kalau lo perhatiin ada beberapa warna yang selalu muncul dalam film-film korea. Kayaknya sutradara2 di sana pada duka dengan tone warna itu. Yeah yeah..
Nah kalau Thailand (dengan shutter sebagai pengecualian), mereka cenderung ke folk yang mendayu-dayu, kisah cintanya kadang buat gw fed up. Apalagi kalau akhirnya jadi urusan siluman-siluman gitu., jadi keinget sama ‘impian pengantin’ yang dulu sampai muncul berapa seri, kayak tersanjung sekarang, dan gua hampir ngga percaya bahwa dulu rieke diah pitaloka oneng muncul beberapa musim. Yikessss…..horor Thailand cenderung folk dan masih berbau mistis.
Hongkong sendiri hampir sama dengan korea. Mereka kayak udah ngga jelas berdiri di pakem apa. Menurut gw sih kalau mau bikin film horror ada beberapa pakem yang emang kudu dipegang. Tapi di produksi hongkong yang juga muncul di ‘three’ ini gw ngeliat angle-angle film gangster. Lucu kan jadinya. Mungkin dari sini juga lah gw bisa merasakan bagaimana tinggal di hongkong tanpa harus benar-benar kesana. Cukup liat filmnya. Jujur aja, gw juga udah punya stereotype sendiri kalau melihat film-film hongkong. Horror dengan sinematografi ala gangster, dan sebenarnya filmnya sendiri bukan horror. Gimana tuh…
Three cukup dapat 2 setengah bintang dari gue. Dari gue loh.

Monday, November 07, 2005

 

beberapa waktu terakhir ini gw sering nonton film horror. secara gw rencananya bakal membuat lanjutan dari shounji (buat yang ngga tau apa itu shounji, bisa ke situs gw yg utama dan ke link shounji. hehe). shounji adalah film horor amatir gw yg pertama dan menandakan debut gw sebagai, ceile, penulis dan sutradara, kelas kacang. hehe. garin nugroho bilang kalau sekarang banyak film indie, udah sampai 700 judul tapi sutradara yang ada belum punya etos membuat film. bikin film 2-3 kali udah ngaku sutradara. jadi ngeri. karena gw udah berani ngaku sutradara. piye jal om garin?nah, dalam rangka memperkaya hasanah bercerita film horor gw mulai mengenyangkan diri dengan film2 horor asia. supaya gw bisa menghindarkan diri dari stereotype hantu asia yang berambut lurus, cewek, kelihatannya cantik, walau sebenarnya mematikan, dan matanya mendelik sana sini. sejauh gw menonton hantu-hantu asia yang lagi populer ya yang rambutnya super lurus itu. shounji juga punya hantu yang rambutnya, hampir lurus, tapi tetep...asia banget juga. susahnya tidak punya back up pencerita, secara gw nulis naskahnya sendiri adalah gw cenderung suka dengan cerita yg gw tulis sendiri. kudunya kan gw punya pembaca keberapa yang gw harap akan membantai cerita itu.ah. tuh kan seperti biasa gw jago melenceng. fokus, fokus.
cerita horor kali ini, sekali lagi, adalah remake film 70an yang berjudul sama 'the amytville horror.' bintangnya adalah ryan reynolds. si six pack dari blade trinity dan satu film konyolnya yg gw lupa. plot yang ditawarkan adalah cerita mengenai keluarga muda yang move in ke sebuah rumah nan gede, nan bagus, di daerah elit long island, di pinggir danau tapi punya sejarah yang super duper ngga enak.tokoh yang diperankan ryan di sini udah berusaha mencegah pindah ke rumah nan gede itu karena takut ngga sanggup bayar, di daerah long island ngga ada rumah murah baby. nah ternyata developer sialan ini menjatuhkan harga sewa sehingga rent nya jadi terjangkau oleh ryan sekeluarga. perhatikan scene waktu jodie melintas di kamar sebelah saat developernya lagi nawarin rumahnya. siapa jodie? hehe. lihat sendiri yaa.rumah nan gede ini dulu, setahun sebelumnya, karena settingnya adalah 1974, dan keluarga sebelumnya the defeo tinggal di sana tahun 1973. keluarga defeo cuma bertahan 28 hari dari sejak kedatangan mereka. pas 28 hari. nah, keluarga baru yang pindah ke rumah ini juga akan mengalami horor yang sama di hari ke-28. horor apa? lihat sendiri...keluarga defeo punya 3 anak. yang paling tua adalah yang mengukir sejarah menakutkan di rumah itu. jodie adalah anak bontot keluarga defeo. di tengah hujan badai dan suara setan yang memanggil anak tertua untuk 'catch'em, kill'em' mulai membantai keluarganya satu persatu dengan shot gun. suara setan ini mulai menghantui anak tertua defeo saat ia berani menyentuh basement rumahnya.
ada sesuatu di sana yang memulai petaka ini.kalau dipikir-pikir, cukup mengerikan. defeo juga adalah korban. karena sebenarnya dari awal rumah itu dibangun, kegelapan sudah berkuasa di sana. seorang dukun jaman pilgrimage sudah mengukir sejarah nan gelap di rumah itu. mengunci semua rahasia sadisnya di basement dan tempat penyimpanan perahu serta danau di dekat rumah itu. sesuatu yang berbau crackers emang mengerikan. masih inget salem witch trial? kalo dipikir-pikir, dukun laknat ini punya sejarah yang dekat dengan salem dan crackersnya.well, kemunculan hantu-hantunya kurang mengerikan karena sebenarnya buat mereka yang suka nonton film horor, udah bisa nebak kapan hantunya nongol, di mana, yang mengejutkan mungkin wujud mereka. well, computer graphic bisa memberikan penampakan yang menggigit. the amytville horor bagus pada backgroundnya, walaupun ujung-ujungnya jadi cemen, gw ngga tau kenapa. film ini kurang gelap untuk memperkuat kesetanan yang dihasilkan oleh kebiasaan si dukun untuk menyiksa dan membantai orang-orang di basement rumahnya.kemunculan hantu-hantunya masih level biasa. dibanding ju-on gw masih tetep parno nonton ju-on sodara-sodara.castnya juga kurang sinergi. keluarga muda yang dipimpin ryan di sini seperti asal comot. apalagi yg dicast untuk menjadi istrinya si ryan. well, mereka about to marry. jadi sebenarnya tokoh ryan di sini sedang berjuang untuk meraih hati anak-anaknya si ibu muda. cuma, jalannya agak sedikit terhambat karena setan mulai menguasai dia. ada homage buat excorist di sini dengan kehadiran si pastor tua, tapi payah, pastornya ngga kuat. jadinya kena serangan lebah dari setan basement dia langsung kabur. mungkin aja si pastor masih kalah kuat.
kalau melihat tradisi rumah-rumah berhantu dan kerasukan roh jahat di film-film hollywood patokan gw sampai saat ini cuma poltergeist dan exorcist. tidak ada film yang sengeri kedua film yang gw barusan sebut.poltergeist sebenarnya ngga begitu ngeri dengan cerita bahwa ada kuburan indian di bawah rumah keluarganya craig. t nelson (pengisi suara mr.incredible). yang bikin ngeri adalah sejarah di luar film ini sendiri. banyak yang mengatakan bahwa film ini menjadi betul2 terkutuk karena pemainnya tewas satu persatu, apalagi yang paling nyeremin adalah waktu pemeran anaknya craig meninggal karena empedunya bocor. darn. makanya isu bahwa film ini terkutuk makin kuat.kalo exorcist duh gw ga tega mau membocorkannya di sini. ada scene di film ini yang harus lo saksikan sendiri saking mengerikannya. gw ngga mau deskripsikan, tapi lo pasti tercengang dan..scene ini adalah salah satu scene di film yang mencengangkan mengingat siapa yang melakukannya. cari!! liat!!
nah rumah hantu amytville juga adalah remake seperti yang gw bilang tadi. gw mungkin akan berusaha mencari versi tahun 1970annya. siapa tahu lebih mengerikan. ngga mungkin dibuat remake kalau versi aslinya tidak begitu menggigit dalam artian menakutkan, kan?film ini gw kasih bintang 2 juga. secara horor nya biasa. beneran ngga nyeremin. yang nyeremin cuma backgroundnya aja. sisanya plain. mungkin buat si nina masih nyeremin. ehehehe.pesan gw: kalau mau pindah rumah, lihat2 lingkungannya, dan sejarah rumah itu...dapat rumah gede dan murah boleh...tapi apa lo tahu dulu ada apa di rumah itu,siapa yang tinggal dan apa yang mereka lakuin?hiiiii....

Sunday, November 06, 2005

 

katanya sih house of wax (2005) adalah remake dari film lama dengan judul yang sama. house of wax yang baru ini diisi oleh wajah-wajah pop bubble gum. mmm, istilah gw sendiri buat artis2 muda yang secara menakjubkan main di banyak film yang genrenya sama dan penggemar mereka juga orang-orang seumuran mereka. gw termasuk seumuran mereka, cuma gw ga suka tuh. bodo ah. ada erika christensen, si cowok yang main film ama duff, trus paris hilton..dan beberapa bintang muda baru yang seperti biasa cuma akan dibantai di genre film-film begini.house of wax emang sebangsa banget sama scream, i know what you did last summer, dan sebutlah sendiri sisanya. jenis teen slasher. meski isinya rada sama, gw termasuk fans jenis film ini. secara gw selalu penasaran, gimana penulisnya membuat tiap karakter pendukungnya mati. haha. sadis ya gw.tapi melihat teknik kematian itu kan belajar juga buat gw, siapa tau gw mau buat teen slasher indonesia pertama di masa mendatang? tuh...indonesia skrg kan isinya film hantu-hantu dan romantic comedy wannabe...kayak vina yang muncul di luar kendali banget itu. ahaha.well, seperti teen slasher lainnya, formatnya sama sih. beberapa orang, jalan bareng, awalnya mereka pikir bakal having fun..senang-senang, terus kendaraan mereka jebol, kalo di film ini, tali kipas mobilnya si cowok bubble gum itu putus. jadi mereka terpaksa camping di lokasi itu. tanpa tahu bahwa daerah itu ga pernah disentuh orang selama sepuluh tahun terakhir, dan beberapa orang yang bertahan hanyalah seniman lilin gila yang membuat sisa penduduk kota itu menjadi lilin. hiiii...ini lumayan nakutin sebenarnya. hehe.pertemuan pertama gerombolan akan terbantai ini terjadi pas si erika, jalan ama paris ke salah satu sudut areal camping dan erika jatuh di...hiii...apa namanya, tumpukan mayat binatang, yang kalo gw liat di filmnya sih cukup disgusting, dan ada tangan di situ, yeahh...tangan saudara2. kumpulan bangkai hewan inilah yang menjelaskan bau busuk yang dicium oleh gerombolan akan terbantai ini malam sebelumnya.nah perhatian buat kamu-kamu yang kebetulan menjalani plot cerita yang sama saat lagi jalan-jalan. jangan kamu dengan stupid dan hilang akalnya bercamping di udara terbuka sementara pembunuh gila yang siap me-lilinkan kamu beredar dengan sangat leluasa di sana sini. ahh ..si paris emang air head.lalu lalu...gerombolan akan terbantai ini kehabisan bensin, satu-satunya gas station di kota ini milik 2 saudara gila seniman lilin itu. di sinilah pembunuhannya dimulai...mmm. ngga mungkinlah gw membeberkannya di sini. jadi saat si erika dan cowoknya, si wade yang tampangnya macho tapi mas urat kakinya kepotong dia jadi mewek...mewek. seriously, denger aja jeritannya.sisanya, seperti biasa, mereka mati satu persatu, ada 2 yang selamat, tapi ya lo nonton sendirilah.kalo gw amatin sih, penulisnya berusaha membuat pembunuh ganda kita, yap...si gila ada 2 orang, dan mereka harusnya kembar, cuma satu dari mereka cacat sebagian wajahnya. dan si gila yang satu, yang mukanya masih bagus...mulai mengisi otak sodaranya yang cacat itu dengan pikiran-pikiran yang ngga bener. nah ketidakbeneran mereka ini diwujudkan dengan house of wax (museum lilin) yang mereka bangun. ending dr house of wax ini cukup mengejutkan. seperti film2 sejenis, kita bisa melihat ruang penyiksaan yang dimiliki 2 sodara gila ini. yes, alat-alat itu. yang buat gw cukup horrific. apa lagi pas si cowok bubble gum mencoba menyelamatkan nick, temannya yang suka bawa kamera ke sana sini, itu yang sebenarnya dikittt lagi mati, udah dibekukan dengan lilin. matanya masih gerak-gerak, dan si cowok bubble gum tau kalo itu nick dari topi yang tertinggal di dekat meja penyiksaan. nah saat si cowok bubble gum berusaha melepaskan jarum-jarum yang nempel di kepalanya si nick, si cowok bubble gum malah..melepaskan kepalanya sekalian. gw cukup kaget. neng erika juga kaget. ehehe.lumayan parno yang itu. bye bye lah nick. oya, secara background motif pembunuhan dan pe-lilinan nya ngga cukup dibangun, jadi kegilaan dua bersaudara ini ga kegambar dengan jelas. cuma kayak bunuh sana bunuh sini aja. kurang psycho buat gw. dari yang gw tahu sih film-film kayak gini emang punya root culture yang kuat. amerika itu terlalu luas, jadi lo ga tau apa daerah yang lo kunjungi waktu jalan-jalan bebas kayak gitu isinya orang waras apa orang sakit. beberapa kisah nyata memang mencatat bahwa pembunuh gila sering beredar di daerah2 panas, kayak texas. inget leatherface.ahhh...pembunuh favorit gua. leatherface itu katanya sih bener2 ada. ampun dah.ya kalo dibandingin ama texas chainsaw massacre (2004) dengan si sexy jessica biel, house of wax ga ada apa-apanya deh. gw masih inget waktu si leatherface menggantung cowoknya jessica di film itu di kait, terus dia menangis-nangis minta ampun. Gee...ini baru psycho. gw aja harus mempersiapkan diri untuk nonton film itu, karena memang sesadis yang gua denger. iya nih, 2 pembunuh gila di house of wax ga punya orisinalitas alat pembunuh. karena mereka 'hanya' mematungkan, dibandingin ama leatherfae yang bawa chainsaw..uhh. masih lebih sakit leatherface emang di mana mana. melihat kegagalan house of wax yang baru ini, gw jadi pengen lihat house of wax yang asli dulu. katanya lebih nyeremin. secara settingannya jadul, mungkin lucu waktu mbayangin bahwa yang dikejar pakai celana cutbrai, ngga kayak erika di house of wax (2005) yang udah pakai boots koboy dengan jeans dan baju perek bunting itu. ohh..dia emang korban yang so cool.apalagi paris...ga ada matinyee..ehehe.dari semua-semuanya, elemen of horror, cerita, film ini 2 aja deh...bintangnya. dari texas chainsaw massacre jauh deh...jauuhhh.oya, ada yang baru dari quentin tarrantino 'hostel' ama 'saw II' seseram apakah mereka, mengingat 'saw' aja udah cukup sakit...,huhuhuh.
ralat:
bukan erika christensen ya, elisa cuthbert
trus si bubble gum boy itu chad michael murray

Tuesday, November 01, 2005

 

gw nonton film ini karena reviewnya di salah satu majalah film langganan gua bagus. bagus banget malah. gw penasaran bagaimana film ini di mata Leila S. Chudori, karena interpretasi beliau soal beberapa film bagus. beberapa film yg gw tonton adalah hasil provokasi tulisan beliau di media itu. beliau kerja di mana sih? ya pokoknya analisa beliau cukup bkin gw penasaran akan sebuah film. tp gw belum baca tulisan beliau akan film ini.
dr review yg gw baca soal Cinderella man gw tau film ini berdasarkan kisah nyata akan seorang petinju bernama James murddock yg hidup dan menjadi besar selama masa great depression di States. saat Wall Street ambruk dan 15 juta orang kehilangan kerjaan dan James Murddock yg dulunya sukses dengan gelarnya bahkan harus menambahkan air di susu anaknya, dan memberikan makanannya pada anaknya yg minta tambah sarapan lagi. what a dad klo gua bilang. untuk menghibur anaknya, Jim (panggilan Murddock) mengaku bahwa dia cukup kenyang dengan mimpinya semalam di mana dia diajak makan ke Ritz oleh temannya. saking kenyangnya dia di mimpi itu dia bilang dia ga mampu makan lagi.
Jay, anak pertama Jim nyolong daging dr toko karena dia ga mau keluarganya kekurangan makan. temannya yang keluarganya udah ga mampu memberikan mereka makan terpaksa mengirim mereka jauh dari rumah supaya tetap bisa makan. Jay ga mau dikirim ke luar rumah hanya supaya mereka bisa makan. Jim bilang ' sesusah apapun kita, kita ga boleh mencuri, dan Ayah ngga akan mengirim kamu..kemanapun.' di sini gw nangis.
jim mulai bertinju lagi karena tokohnya paul giamatti (gw lupa namanya) dapet gigs. itupun ngorbanin tangan kanan jim. buat 250 dollar. sebelum-sebelumnya Jim harus nyari kerja dengan ngantri bersama pria2 lainnya yang nawarin tenaga buat kerja serabutan di pelabuhan. listrik dicabut, anak2 kurang makan. dingin udah datang. anak-anak JIm udah mulai sakit. God, gw pikir, cobaan apalagi nih. satu gambaran lagi soal great depression yg gua dapet dr film ini.
jim akhirnya (terpaksa) ngemis ke teman2nya yg udah lupa sama dia. hanya supaya listrik hidup lagi dan anak-anak balik lagi sama dia. Jim bilang dia ga boleh kalah sama hidup.
akhirnya Jim, dengan perjuangan panjang bisa kembali ke ring tinju. promotor dan asosiasi tinjupun berani mengembalikan izin bertarungnya, karena Jim sempat dianggap bertarung dengan kotor sehingga pertandingan dihentikan dan izinnya dicabut. jim yang menderita, menjadi miskin, percaya akan kekuatannya dan setia pada keluarganya walaupun usia sudah semakin tua menjadi inspirasi Amerika saat itu. kekuatan masyarakat Amerika untuk bertahan selama masa great depression yang benar-benar menyedihkan itu berasal dr James Murdock.
Jim akhirnya harus bertarung dengan Brae, juara dunia yang menewaskan 2 lawan terakhirnya. bahkan koran2 mengatakan bahwa pertandingan brae sama dengan kematian. Brae tidak menemukan lawan lain selain Jim. promotor ingin pertandingan yang hebat. Brae harus menemukan lawan yang seimbang. James Murddock, 80 kali menang KO. tapi Brae melecehkan kemampuan James yang sudah tua. pertimbangan keselamatan, dia takut akan membunuh Jim di ring, sama seperti 2 lawannya sebelumnya.
Amerika berdoa untuk Jim supaya dia selamat dr pertandingan maut ini. Jim sudah tua. tangan kanannya sudah tak tangguh. tangan kirinya cukup siap. tapi Brae sudah menghajar 2 orang hingga tewas. apakah dia akan menjadi yang ke-3?
spoilernya banyak banget ya? harti2 makanya. aha. filmnya sendiri bagus secara muatan dramanya. bungkusan dan isinya pas. Russel Crowe bagus sekali memainkan emosi. gw langsung simpati dengan fatherhoodnya. Renee juga lawan main yang top notch. peran Russel di sini ngingetin gw saat dia jadi maximus di Gladiator. banyak kesedihan di 2 filmnya ini, hanya eksekusinya beda dan endingnya juga tidak senada. ya iyalah. kalo sama kan lucu. bodoh ya gue.
cuma yang bikin gw penasaran, gimana James jadi miskin ga diceritain. tiba-tiba aja dengan transition shot loncat ke masa 4 tahun sebelum great depression dan James sekeluarga sudah miskin. karena bercerita tentang Murddock gw rasa juga fall nya dia perlu dicoverlah.
buat film berdurasi 2 jam, phasenya cukup. tidak pelan. tidak juga terlalu cepat. enak ngikutinnya. semua bagian cerita diatur sesuai porsi dan betul-betul nendang. yang nulis hebat. ehheeh. siapa sih? jadi pengen belajar. jadi apprentice.gwgwheheh.
muatannya juga pas. yg jelas emang film ini membahas perjuangan masyarakat AMerika untuk keluar dr great depression itu, dan di sini Murddock yang diceritakan. menceritakan dia mempunyai kelebihan, di mana dia adalah legenda tinju, ikon harapan, semangat kebangkitan yang harus selalu ada. ohhhhhhh. gitu deh.
editingnya juga seru. beberapa pertandingan yang ditunjukin membuat gw terkesima dan terpana karena look so real. the blood were so red and the bruises looked that hurt. mungkin ada body double yang emang bisa tinju. tapi ya itu lah. i felt like i was actually watching a boxing competition. and the people were just so raved. keren.
harapan selalu ada. hidup cinderella man!

Saturday, October 29, 2005

 

dari sekian banyak film batman yang ada, mungkin hanya BATMAN BEGINS yang paling jadi favorit gua. dari komik BATMAN yang sempat gua baca bruce wayne adalah tokoh aka karakter yang sangat sedih.he has all the money and he is unhappy. very pity. kalo bener-bener mau memfilmkan batman sesuai dengan imagenya selama ini di komik BATMAN yang bener-bener pas adalah berbentuk noir. kira-kira ada ngga ya yg mau bikin? ehehe.
anyway, secara gua juga emang suka film-film super heroes maka gua selalu penasaran bagaimana beda sutradara mempresentasikan karakter BATMAN dan bruce wayne. bruce wayne, menurut gua, adalah super heroes yang paling human. secara dia juga bisa luka dan dia ngga musti kecelakaan dulu buat dapetin powernya. menurut BATMAN BEGINS, asal muasal interest bruce wayne dengan alter egonya adalah memerangi ketakutannya dan step into a new life. and he knows at the same time that someone has to do something on the crimes. Gotham adalah hidupnya jadi dia ga bisa diemin any evil force interupting the peacefull state of that damn dark city.
Christopher nolan berhasil sekali membawa BATMAN ke presentasi yg gua impi-impikan sejak dulu. dari komik yg gua baca gotham city adalah slump dengan kemewahan di beberapa sudut kota. set BATMAN begins betul2 memberikan itu. cuma karakter noirnya kurang. gua jadi penasaran, pemahaman david finch akan BATMAN gimana ya? secara di ending BATMAN begins mulai ada pengenalan JOKER. whooo, pasti keren banget. dan kayak spiderman yg meraup sukses gua curiga BATMAN akan berjalan dengan sekuel2? ah. basi dong.
BATMAN begins juga dengan sukses menampilkan bruce yang penuh grieve itu. christian bale should be given credits on this. matanya betul2 tai banget. cuma itulah...si bale kurang gape buat jadi orang kaya kebanyakan duit yang well...dia itu seperti menciptakan cetakan buat dirinya sendiri bahwa dia adalah actor khusus film2 dengan tekanan emosi berlebih pada tokohnya. gua emang belum nonton semua filmnya si bale (ahhh...ga mungkin lah). tapi klo inget2 american psycho atau the machinist atau empire of the sun, semua tokoh yang diperanin doi experienced pressure yang membawa pada perubahan karakter.
michael keaton menjadi batman? basi..dia botak man. lagian dia pendek. his face does not show grieve.
george clooney jadi batman? dia juga basi.dia terlalu flamboyan. jadi pas gua nonton batman versi dia ga dapet dah bruce wayne yg gua impikan selama ini. perhatiin juga body language dia. senyumnya dia, dia membuat stereotype di situ. dia bukan batman.misscast banget. curiganya dia dicast cuma karena lagi tenar sekali wkt itu.
val kilmer jadi batman...mmm. boleh lah. kilmer punya sense of desperation di sana. tapi dia juga ga bakat jadi orang kaya. dia cocoknya jadi hippies. setelah gua nonton THE DOORS, gw cuma ngeliat kilmer sebagai gelandangan. bahkan ampe saat ini. one more thing. satu2nya bruce wayne berbibir tebal adalah dia. ngga penting sih.
well, satu lagi tentang si bale. dan tentang batman. gua suka perubahan karakter suara bale dari dia adalah wayne dan dia adalah batman. bahkan suaranya menampakan kesedihan dan ada sense of alter ego di sana. buat image batman yang gelap,penuh kesedihan, dendam-walaupun itu kemudian dihapus oleh rachel-oiya, katie holmes sangat misscast-dia itu ABG di film yg salah-dia emang lebih cocok di DC atau piece's of april. gua penasaran kapan wajahnya bisa berubah jadi mature nanti? setelah dia punya anak dr cruise? dasar pelacur pintar, dia memutuskan untuk jatuh cinta dengan lelaki yg tepat. wanita mana di dunia ini yang menolah dibuahi oleh cruise? well, cruise juga ga sembarang humping woman kan?
anyway, back to BATMAN. kesalahan gua adalah menyimpang ini. ahaha. sorry, tulisan perdana. ntar gua edit lagi yes.
mungkin karena BATMAN begins diciptakan di era kayak gini makanya presentasinya juga lebih bagus. waktu gua nonton batman2 lama gua cuma ngerasa well...kenapa begini ya. secara BATMAN sepertinya lebih banyak dipermainkan, presentasi yang tidak fit. gelap sih gelap tapi kurang...gua harus menyelidiki di sisi ini lagi.
BATMAN2 dulu tidak ada yang explore sampai ke sisi dunia lain untuk mengembangkan bruce wayne. BATMAN2 lama hanya berkutat di gotham. dan anehnya sampai film yang terakhir ini pun penggambaran gotham city dan sepak terjang batman di kota ini masih memberikan dampak penyempitan. maksud gua angle2 kameranya. sepak terjang batman seperti dibatasi oleh kamera2 ini. batman seperti sedang beraksi dalam teater nan sempit. bahkan christopher nolan juga memakai patron ini. bener ga? coba deh perhatiin...
secara cerita, BATMAN begins lebih dinamis. dalam artian jalan menjadi BATMAN menjadi jelas buat gua. itu juga versinya nolan kan, klo komik jarang juga relasi ke sini. masa kecil wayne cuma samar2 aja, yg sering diekspos adalah kematian bonyoknya. noir banget di sini. nolan dan penulis naskahnya berhasil meramu plot-plot baru yang ga terpikirkan. wayna dipresentasikan sebagai orang kaya kebanyakan duit yang melakukan tindak kriminal cuma supaya tidak dikenal orang lagi. dan menyalurkan dendamnya di sana sini. cuma ya itu, usahanya untuk tidak dikenali orang gagal. dia bahkan kemudian diidentifikasi sebagai orang yang menakutkan. dendamnya membuat wayne menjadi ganas. kalo plot crimenya oke. twistnya ga banyak tapi interelasinya kuat.
runtuhnya railway yang dibangun oleh thomas wayne aka bapaknya bruce adalah simbol new life buat bruce. bruce udah kelamaan hidup dalam mimpi buruk, ketakutannya sendiri. saat railway itu runtuh maka saatnya buat bruce bangkit lagi. caila...ehehehe.
anyway, film ini penuh dengan cast2 yg mantab. bale, holmes (cuma krn dia punya nama), freeman, liam neeson, ken watanabe, gary oldman, tom wilkinson, michael caine...ahhh. bisa orgasme liat film ini. kapan lagi mereka satu frame bareng. catat juga kehadiran pemeran earle yang klo gua liat sering muncul di film2 kelas B. siapa sih namanya...
buat film batman. batman begins masih kurang gelap sih. buat gua lo ya.
tapi above all, gua kasih 4 bintang dah. CD 2 nya bisa mengobati keletihan gua melihat pelannya the invention of new bruce wayne di cd 1. jujitsu, dan ilmu ninja yang menurut gua ga penting. maksud gua...mmm. it makes the movie kelihatan cheap. untuk tokoh sekelas bruce wayne dan menjadi batman latihan2 ninja dan avi whatever itu ga layak diperlihatkan...ahhh
tapi gua suka headline halaman ke 8, koran pagi besoknya "milyarder mabuk membakar rumahnya"...sangat BATMAN, bruce wayne, tapi wayne jadi party animals...ahhhhh (lagi).

This page is powered by Blogger. Isn't yours?